JAKARTA — Pemerintah Indonesia mulai menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak dunia yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah tengah merumuskan berbagai opsi kebijakan guna menjaga stabilitas energi nasional serta menekan dampak kenaikan harga minyak global terhadap perekonomian dalam negeri.
Lonjakan harga minyak terjadi setelah konflik di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global, termasuk potensi penutupan jalur vital distribusi minyak di Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.
Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (12/3/2026), harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei melonjak hingga 9,3 persen ke posisi US$100,54 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak April naik 8,7 persen menjadi US$94,85 per barel.
Kenaikan harga yang cukup tajam tersebut mendorong sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara mengambil langkah penghematan energi.
Pemerintah Thailand, misalnya, mewajibkan sebagian besar instansi pemerintah menerapkan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) guna menekan konsumsi bahan bakar. Langkah serupa juga ditempuh Vietnam, di mana Kementerian Perdagangan setempat meminta perusahaan-perusahaan domestik mengadopsi pola kerja jarak jauh sebagai upaya efisiensi energi, mengingat tingginya ketergantungan negara tersebut terhadap impor minyak.
Di Indonesia, Bahlil menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan situasi global sambil menyiapkan sejumlah alternatif kebijakan.
“Semua alternatif yang akan kita pakai untuk kebaikan negara kita, sekaligus untuk mendorong efisiensi pemakaian bahan bakar,” ujar Bahlil usai mengikuti rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Kamis (12/3).
Menurutnya, kebijakan yang tengah disiapkan pemerintah akan berfokus pada efisiensi konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Namun hingga saat ini belum ada keputusan final karena kondisi geopolitik global masih terus berkembang.
Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah diversifikasi sumber impor minyak mentah. Selama ini sebagian besar pasokan minyak Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah.
Pemerintah berencana mengalihkan sebagian sumber impor tersebut ke negara lain seperti Amerika Serikat, Nigeria, Brasil, dan Australia guna mengurangi risiko gangguan pasokan akibat konflik kawasan.
“Kita akan mengonversi sumber minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika dan beberapa negara lain seperti Nigeria, Brasil, Australia, dan negara lainnya,” jelas Bahlil.
Selain menjaga ketersediaan pasokan energi, pemerintah juga mempercepat agenda transisi energi dari sumber fosil menuju energi terbarukan.
Presiden Prabowo Subianto bahkan telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Transisi Energi yang dipimpin langsung oleh Bahlil Lahadalia. Satgas tersebut bertugas merumuskan langkah teknis serta memastikan implementasi program energi bersih berjalan sesuai target pemerintah.
Pemerintah menargetkan sejumlah program energi terbarukan dapat direalisasikan secara maksimal dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun ke depan, sebagai bagian dari strategi jangka panjang memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap minyak impor.
















Comment