by

Ambisi AI India Menguat, Model 105B Sarvam AI Disebut Kompetitif di Panggung Global

-TEKNO-10 Views
banner 468x60

SINGAPURA — Ambisi India untuk menjadi kekuatan besar dalam teknologi kecerdasan buatan kembali menjadi sorotan setelah perusahaan rintisan Sarvam AI memperkenalkan model AI berskala besar dalam ajang India AI Impact Summit 2026.

Dalam konferensi yang digelar pada Februari tersebut, Sarvam AI meluncurkan model large language model (LLM) dengan kapasitas 105 miliar parameter serta model tambahan berkapasitas 30 miliar parameter, yang disebut sebagai proyek paling ambisius perusahaan hingga saat ini.

banner 336x280

Di tengah persaingan global yang didominasi perusahaan seperti OpenAI, Google, Anthropic, DeepSeek, dan Alibaba, langkah Sarvam AI memicu kembali perdebatan mengenai kemampuan India untuk bersaing dalam perlombaan teknologi AI tingkat dunia.

Perkembangan ini disorot para pengamat karena selama ini India dikenal kuat dalam pengembangan perangkat lunak berbasis AI, namun belum sepenuhnya dipandang mampu menyaingi model fondasi raksasa teknologi global.

Peluncuran model tersebut menjadi bagian dari upaya India memperkuat ekosistem AI domestik yang terus berkembang, seiring meningkatnya investasi teknologi dan dukungan pemerintah terhadap riset kecerdasan buatan.

Model 105B milik Sarvam diklaim mampu menyaingi beberapa model open-weight terkemuka seperti GPT-OSS 120B, Qwen3 Next 80B, serta GLM 4.5 Air dalam sejumlah pengujian performa. Klaim ini disampaikan langsung oleh CEO sekaligus pendiri Sarvam AI, Pratyush Kumar, dalam presentasinya di konferensi tersebut.

Namun demikian, model tersebut belum dipublikasikan secara terbuka sehingga para peneliti dan pengembang eksternal belum dapat melakukan verifikasi independen terhadap klaim performa tersebut.

Salah satu fitur yang menjadi perhatian adalah sistem aktivasi selektif parameter, di mana model dengan total 105 miliar parameter itu hanya mengaktifkan sekitar 9 miliar parameter aktif untuk setiap permintaan. Pendekatan ini diklaim mampu menekan kebutuhan komputasi sehingga biaya operasional menjadi lebih rendah dibandingkan beberapa model global.

Para pakar menilai pendekatan ini berpotensi meningkatkan efisiensi pengoperasian model AI, meskipun transparansi teknis masih menjadi perhatian.

CEO perusahaan AI Karmaloop AI, Abhishek Chatterjee, menyebut inovasi tersebut menarik tetapi masih membutuhkan verifikasi lebih lanjut.

“Jika benar model ini mampu menghasilkan tingkat penalaran seperti itu hanya dengan sembilan miliar parameter aktif, maka ini bisa menjadi inovasi penting. Namun komunitas AI tetap perlu melihat bobot modelnya untuk memverifikasi klaim tersebut,” ujarnya.

Kemampuan Sarvam AI juga dipengaruhi oleh peningkatan akses terhadap GPU kelas tinggi di India. Pada Mei 2025, Kementerian Elektronik dan Teknologi Informasi India (MeitY) memberikan akses kepada perusahaan tersebut terhadap 4.086 chip Nvidia H100, yang menjadi tulang punggung pelatihan model AI berskala besar.

Dukungan ini merupakan bagian dari program IndiaAI Mission yang bertujuan mempercepat pengembangan teknologi AI domestik.

Meski demikian, sejumlah ahli menilai teknologi yang digunakan Sarvam masih mengandalkan arsitektur Mixture of Experts (MoE), pendekatan yang sebelumnya dipopulerkan oleh model AI milik DeepSeek.

Pendekatan MoE memungkinkan sebuah model besar menggunakan beberapa sub-model khusus, tetapi hanya mengaktifkan sebagian kecil dari mereka untuk setiap permintaan, sehingga menekan konsumsi komputasi.

Di sisi lain, kurangnya transparansi teknis masih menjadi perhatian sejumlah pengembang. Hingga saat ini Sarvam belum merilis model weights, white paper teknis, maupun model card, dokumen yang biasanya menjelaskan data pelatihan, metode keamanan, serta batasan penggunaan model.

Selain pengujian performa, beberapa pengamat juga menyoroti aspek keamanan model tersebut. Dalam sejumlah pengujian jailbreak yang dilakukan oleh pakar AI independen, model Sarvam disebut masih menunjukkan beberapa kelemahan dalam sistem pengamanan informasi sensitif.

Terlepas dari berbagai catatan tersebut, model AI Sarvam menunjukkan keunggulan dalam konteks bahasa dan budaya India. Sistem ini mampu berkomunikasi dalam 22 bahasa Indic, termasuk Hindi, Tamil, Marathi, Gujarati, Bengali, dan Urdu.

Keunggulan ini dinilai penting karena India memiliki basis pengguna internet yang sangat besar. Data pemerintah menunjukkan negara tersebut memiliki sekitar satu miliar pengguna internet, dengan lebih dari 700 juta di antaranya telah menggunakan teknologi AI dalam berbagai bentuk layanan digital.

Pertumbuhan pasar AI di India juga diperkirakan meningkat pesat. Laporan Fortune Business Insights memperkirakan nilai pasar AI India akan melonjak dari sekitar US$13 miliar pada 2025 menjadi lebih dari US$130 miliar pada 2032.

Sarvam AI sendiri telah memperoleh pendanaan sekitar US$53,8 juta dari berbagai investor modal ventura serta menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan teknologi dan institusi pemerintah.

Meski belum dapat disebut sebagai “momen DeepSeek” bagi India, kehadiran model AI berskala besar ini dianggap sebagai tanda bahwa negara tersebut mulai mampu membangun model kecerdasan buatan kelas atas secara mandiri.

Para pengamat menilai masa depan proyek ini akan sangat bergantung pada transparansi teknologi, kemampuan membangun ekosistem bisnis, serta apakah model tersebut nantinya dibuka untuk pengujian komunitas global.

Bagi Sarvam AI sendiri, fokus utama tampaknya bukan hanya bersaing di panggung global, tetapi juga membangun ekosistem AI yang kuat untuk kebutuhan domestik India.

banner 336x280

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed